Fish

Selasa, 27 Desember 2011

Makalah Bimbingan dan Konseling di Sekolah


BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang Masalah
Bimbingan dan konseling merupakan kegiatan yang bersumber pada kehidupan manusia. Kenyataan menunjukkan bahwa manusia di dalam kehidupannya menghadapi persoalan-persoalan yang silih berganti.. Manusia tidak sama satu dengan yang lain, baik dalam sifat maupun kemampuannya. Ada manusia yang sanggup mengatasi persoalan tanpa bantuan pihak lain, tetapi tidak sedikit manusia yang tidak mampu mengatasi persoalan bila tidak dibantu orang lain. Khususnya bagi yang terakhir inilah bimbingan dan konseling diperlukan.
Pada pelaksanaan bimbingan dan konseling di Sekolah guru memiliki perananan yang sangat penting karena guru merupakan sumber yang sangat menguasai informasi tentang keadaan siswa. Di dalam melakukan bimbingan dan konseling, kerja sama konselor dengan personel lain di sekolah merupakan suatu syarat yang tidak boleh ditinggalkan. Kerja sama ini akan menjamin tersusunnya program bimbingan dan konseling yang komprehensif, memenuhi sasaran, serta realistik.
Meskipun keberadaan layanan bimbingan dan konseling di sekolah sudah lebih diakui sebagai profesi, namun masih ada persepsi negatif tentang bimbingan dan konseling terutama keberadaannya di sekolah dari para guru, sebagian pengawas, kepala sekolah, para siswa, orang tua siswa bahkan dari guru BK sendiri. Selain persepsi negatif tentang BK, juga sering muncul tudingan miring terhadap guru bimbingan dan konseling di sekolah.
Munculnya persepsi negatif tentang BK adalah tidak diketahuinya fungsi,  arah dan tujuan bimbingan di sekolah atau tidak disusunnya program BK secara terencana. Dapat juga disebabkan oleh ketidaktahuan akan tugas, peran, fungsi, dan tanggung jawab guru BK itu sendiri.


1.1  Rumusan Masalah
Permasalahan yang akan dibahas dalam makalah ini adalah :
1.      Apa fungsi  bimbingan di sekolah?
2.      Bagaimana arah dan tujuan bimbingan dan konseling di sekolah?
3.      Apa saja syarat program bimbingan di sekolah?
4.      Bagaimana  syarat bagi seorang pembimbing di sekolah?
5.      Bagaimana  prinsip-prinsip program bimbingan di sekolah?
6.      Bagaimana  langkah-langkah penyusunan program bimbingan?
7.      Bagaimana sistematika penyusunan dan pengembangan program BK?
8.      Apa saja  kegiatan-kegiatan dalam program bimbingan?
9.      Bagaimana implikasi-implikasi suatu program bimbingan?

1.3 Tujuan
 Tujuan pembuatan dari makalah ini adalah:
  1. Untuk mengetahui fungsi bimbingan di sekolah
2.      Untuk mengetahui arah dan tujuan bimbingan dan konseling di sekolah?
3.      Untuk mengetahui Apa saja syarat program bimbingan di sekolah?
4.      Untuk mengetahui syarat bagi seorang pembimbing di sekolah?
5.      Untuk mengetahui a  prinsip-prinsip program bimbingan di sekolah?
6.      Untuk mengetahui  langkah-langkah penyusunan program bimbingan?
7.      Untuk mengetahui sistematika penyusunan dan pengembangan program BK?
8.      Untuk mengetahui kegiatan-kegiatan dalam program bimbingan?
9.      Untuk mengetahui implikasi-implikasi suatu program bimbingan?




BAB II
PEMBAHASAN

2.1  Fungsi  Bimbingan di Sekolah
Bimbingan dan konseling disekolah berfungsi sebagai upaya untuk membantu kepala sekolah beserta stafnya di dalam menyelenggarakan kesejahteraan sekolah.
Uman Suherman (2008) menyatakan bahwa secara umum, fungsi bimbingan dan konseling dapat diuraikan sebagai berikut.
1.        Fungsi pemahaman, yaitu fungsi bimbingan dan konseling membantu konseli (klien) agar memiliki pemahaman terhadap potensi dirinya dan lingkungan (pendidikan, pekerjaan, dan norma agama). Konseli diharapkan mampu mengembangkan potensi dirinya secara optimal dan menyesuaikan dirinya dengan lingkungan.
2.        Fungsi preventif, yaitu fungsi yang berkaitan dengan upaya konselor untuk senantiasa mengantisipasi berbagai masalah yang mungkin terjadi dan berupaya untuk mencegahnya supaya tidak dialami oleh konseli. Melalui fungsi ini, konselor memberikan bimbingan kepada konseli tentang cara menghindarkan diri dari perbuatan atau kegiatan yang membahayakan dirinya. Adapun teknik yang dapat digunakan adalah pelayanan orientasi, informasi, dan bimbingan kelompok.
3.        Fungsi pengembangan, yaitu fungsi bimbingan dan konseling yang sifatnya lebih proaktif . konselor berupaya untuk menciptakan lingkungan yang nyaman dan kondusif. Konselor dan guru atau staf sekolah bekerja sama membentuk tim kerja merencanakan dan melaksanakan program bimbingan secara berkesinambungan membantu konseli mencapai tugas perkembangannya. Teknik bimbingan yang dapat digunakan di sini adalah pelayanan informasi, tutorial, diskusi kelompok atau curah pendapat (brain storming), home room, dan karyawisata.
4.        Fungsi penyembuhan, yaitu fungsi bimbingan dan konseling yang bersifat kuratif. Fungsi ini berkaitan erat dengan upaya pemberian bantuan kepada konseli yang telah mengalami masalah, baik menyangkut aspek pribadi, sosial, belajar maupun karir. Teknik yang dapat digunakan adalah konseling dan remedial teaching.
5.        Fungsi penyaluran, yaitu fungsi bimbingan dan konseling dalam membantu konseli memilih kegiatan ekstrakurikuler, jurusan, atau program studi, dan memantapkan penguasaan karir atau jabatan yang sesuai dengan minat, bakat, keahlian, dan ciri-ciri kepribadian lainnya. Dalam melaksanakan fungsi ini, konselor bekerja sama dengan pendidik lainnya di dalam maupun di luar lembaga pendidikan.
6.        Fungsi adaptasi, yaitu fungsi membantu para pelaksana pendidikan, kepala sekolah/ madrasah dan staf, konselor, dan guru untuk menyesuaikan program pendidikan terhadap latar belakang pendidikan, minat, kemampuan, dan konseli. Dengan menggunakan informasi yang memadai mengenai konseli, pembimbing/konselor dapat membantu para guru dalam memperlakukan konseli secara tepat, baik dalam memilih dan menyusun materi sekolah/madrasah, memilih  metode dan proses pembelajaran maupun menyusun bahan pelajaran sesuai dengan kemampuan dan kecepatan konseli.
7.        Fungsi penyesuaian, yaitu fungsi bimbingan dan konseling dalam membantu konseli untuk menyesuaikan diri dengan diri dan lingkungannya secara dinamis dan konstruktif.
8.        Fungsi perbaikan, yaitu fungsi bimbingan dan konseling untuk membantu konseli sehingga dapat memperbaiki kekeliruan dalam berpikir, berperasaan dan bertindak (berkehendak). Konselor melakukan intervensi (memberikan perlakuan) terhadap konsli supaya memiliki pola berpikir yang sehat, rasional dan memiliki perasaan yang tepat sehingga dapat menghantarkan mereka pada tindakan atau kehendak yang produktif dan normatif.
9.        Fungsi fasilitas, memberikan kemudahan kepada konseli dalam mencapai pertumbuhan dan perkembangan yang optimal, serasi, selaras, dan seimbang dalam seluruh aspek dalam diri konseli.
10.    Fungsi pemeliharaan, yaitu fungsi bimbingan dan konseling untuk membantu supaya dapat menjaga diri dan mempertahankan situasi kondusif yang telah tercipta dalam dirinya. Fungsi ini memfasilitasi konseli agar terhindar dari kondisi-kondisi yang akan menyebabkan penurunan produktifitas diri. Pelaksanaan fungsi ini diwujudkan melalui program-program yang menarik, rekreatif, dan fakultatif (pilihan) sesuai dengan minat konseli.
Adapun fungsi khusus bimbingan dan konseling, yakni khususnya di sekolah, menurut H.M. Umar, dkk., (21-22) adalah sebagai berikut :
1.        Menolong anak dalam kesulitan belajarnya;
Sekolah-sekolah kita pada umumnya masih kurang memperhatikan individual anak-anak. Banyaknya jumlah mata pelajaran dan luasnya bahan pelajaran, menyebabkan guru pada umumnya hanya memompakan bahan pelajaran itu kepada otak anak-anak. fungsi pokok dari bimbingan dan konseling adalah menolong individu-individu yang mencari dan membutuhkan bantuan. Jenis bantuan yang dibutuhkan oleh individu berbeda-beda meskipun ada kemungkinan kesukaran yang dihadapi sama.
2.        Berusaha memberikan pelajaran yang sesuai dengan minat dan kecakapan anak-anak
Melaksanakan bimbingan dengan sebaik-baiknya diperlukan pengetahuan yang lengkap tentang individu yang bersangkutan, seperti bakat, kecerdasan, minat, latar belakang keluarga, riwayat pendidikan, dan sebagainya, yang berhubungan dengan bantuan yang akan diberikan.
3.      Memberikan nasihat kepada anak yang akan berhenti sekolahnya;
4.        Memberi petunjuk kepada anak-anak yang melanjutkan belajarnya, dan sebagainya.

2.2 Arah dan Tujuan Bimbingan dan Konseling Di Sekolah
Arah bimbingan dan konseling di sekolah adalah memungkinkan siswa mengenal dan menerima diri sendiri serta mengenal dan menerima lingkungannya secara positif dan dinamis serta mampu mengambil keputusan, mengamalkan dan mewujudkan diri sendiri secara efektif dan produktif sesuai dengan peranan yang diinginkannya dimasa depan.
Adapun tujuan bimbingan dan konseling di sekolah adalah agar tercapai perkembangan yang optimal pada individu yang dibimbing, dengan perkataan lain agar individu (siswa) dapat mengembangkan dirinya secara optimal sesuai dengan potensi atau kapasitasnya dan agar individu dapat berkembang sesuai lingkungannya.
Secara khusus tujuan bimbingan dan konseling di sekolah, diuraikan H.M. Umar, dan kawan-kawan (1998:21-21) sebagai berikut:
Tujuan bimbingan bagi siswa:
  1. Membantu siswa-siswa untuk mengembangkan pemahaman diri sesuai dengan kecakapan, minat, pribadi, hasil belajar, serta kesempatan yang ada
  2. Membantu siswa-siswa untuk mengembangkan motif-motif dalam belajar, sehingga tercapai kemajuan pengajaran yang berarti
  3. Memberikan dorongan di dalam pengarahan diri, pemecahan masalah, pengambilan keputusan, dan keterlibatan diri dalam proses pendidikan
  4. Membantu siswa-siswa untuk memperoleh kepuasan pribadi dalam penyesuaian diri secara maksimum terhadap masyarakat
  5. Membantu siswa untuk hidup di dalam kehidupan yang seimbang dalam berbagai aspek fisik, mental dan sosial.
Tujuan bimbingan bagi guru adalah sebagai berikut:
  1. Membantu guru dalam berhubungan dengan siswa-siswa
  2. Membantu guru dalam menyesuaikan keunikan individual dengan tuntutan umum sekolah dan masyarakat
  3. Membantu guru dalam mengenal pentingnya keterlibatan diri dalam keseluruhan program pendidikan
  4. Membantu keseluruhan program pendidikan untuk menemukan kebutuhan-kebutuhan seluruh siswa
Adapun tujuan bimbingan bagi sekolah:
  1. Menyusun dan menyesuaikan data tentang siswa yang bermacam-macam
  2. Mengadakan penelitian tentang siswa dari latar belakangnya
  3. Membantu menyelenggarakan kegiatan penataran bagi para guru dan personil lainnya, yang berhubungan dengan kegiatan bimbingan
  4. Mengadakan peneltian lanjutan terhadap siswa-siswa yang telah meninggalkan sekolah.
Tujuan bimbingan dan konseling dalam Islam secara rinci dapat disebutkan sebagai berikut:
  1. Untuk menghasilkan suatu perubahan, perbaikan, kesehatan dan kebersihan jiwa dan mental, jiwa menjadi tenang, jinak dan damai (mutmainnah), bersikap lapang dada (radhiyah), dan mendapatkan pencerahan taufik dan hidayah Tuhannya (mardhiyah).
  2. Untuk menghasilkan suatu perubahan, perbaikan, dan kesopanan tingkah laku yang dapat memberikan manfaat, baik pada diri sendiri, lingkungan keluarga, lingkungan kerja, maupun lingkungan sosial dan alam sekitarnya.
  3. Untuk menghasilkan kecerdasan rasa (emosi) pada individu sehingga muncul dan berkembang rasa toleransi, kesetiakawanan, tolong menolong dan rasa kasih sayang.
  4. Untuk menghasilkan kecerdasan spiritual pada diri individu sehingga muncul dan berkembang rasa keinginan untuk berbuat taat kepada Tuhannnya, ketulusan mematuhi segala perintah-Nya, serta ketabahan menerima ujian-Nya.
  5. Untuk menghasilkan potensi Ilahiyah, sehingga dengan potensi itu individu dapat melakukan tugasnya sebagai khalifah dengan baik dan benar, ia dapat dengan baik menanggulangi berbagai persoalan hidup, dan dapat memberikan kemanfaatan dan keselamatan bagi lingkungannya pada berbagai aspek kehidupan.


2.3 Syarat Program Bimbingan di Sekolah
Syarat Program Bimbingan adalah :
1.      Program bimbingan itu hendaknya dikembangkan secara berangsur-angsur atau tahap dengan melibatkan semua staf sekolah dalam perencanaannya.
2.      Program bimbingan itu harus memiliki tujuan yang ideal dan realistis dalam perencanaannya.
3.      Program bimbingan itu harus mencerminkan komunikasi yang kontiyu antara semua anggota staf sekolah yang bersangkutan.
4.      Program bimbingan itu harus menyediakan atau memiliki fasilitas yang diperlukan.
5.      Program bimbingan itu harus disusun sesuai program pendidikan dan pengajaran di sekolah yang bersangkutan.
6.      Program bimbingan harus memberikan pelayanan kepada semua murid.
7.      Program bimbingan harus menunjukan peranan yang penting dalam menghubungkan sekolah dengan masyarakat.
8.      Program bimbingan harus memberikan kesempatan untuk melaksanakan penilaian terhadap diri sendiri.
9.      Program bimbingan harus menjamin keseimbangan pelayanan bimbingan dalam hal:
  1. Pelayanan kelompok dan individual
  2. Pelayanan yang diberikan oleh berbagai jenis petugas bimbingan
  3. Studi individual dan penyuluhan individual
  4. Penggunaan alat pengukur atau teknik alat pengumpul data yang obyektif dan subyektif
  5. Pemberian jenis-jenis bimbingan
  6. Pemberian penyuluhan secara mum dan penyuluhan khusus
  7. Pemberian bimbingan tentang berbagai program sekolah
  8. Penggunaan sumber-sumber di dalam sekolah dan di luar sekolah yang bersangkutan
  9. Kebutuhan individual dan kebutuhan masyarakat
  10. Kesempatan untuk berfikir, merasakan dan berbuat.
.
2.4  Syarat Bagi Seorang Pembimbing Di Sekolah
Syarat-syarat yang dituntut bagi seorang pembimbing di sekolah menurut Arifin dan Eti Kartikawati (1994/1995)  menyatakan bahwa petugas bimbingan dan konseling di sekolah (termasuk madrasah) dipilih atas dasar beberapa kualifikasi yaitu:
1.      Syarat yang Berkenaan dengan Kepribadian
Seorang guru pembimbing atau konselor harus memiliki kepribadian yang baik. Pelayanan bimbingan dan konseling berkaitan dengan pembentukan perilaku dan kepribadian klien akan efektif apabila dilakukan oleh seorang pembimbing yang memiliki kepribadian yang baik pula.
2.       Syarat yang Berkenaan dengan Pendidikan
Pelayanan bimbingan dan konseling merupakan pekerjaan profesional. Setiap pekerjaan profesional menuntut persyaratan-persyaratan tertentu antara lain pendidikan. Seorang guru pembimbing atau konselor selayaknya memiliki pendidikan profesi, yaitu jurusan bimbingan konseling Strata Satu (S1), S2 maupun S3. Atau sekurang-kurangnya pernah mengikuti pendidikan dan pelatihan tentang bimbingan dan konseling.
3.      Syarat yang berkenaan dengan Pengalaman
Pengalaman memberikan pelayanan bimbingan dan konseling berkontribusi terhadap keluasan wawasan pembimbing atau konselor yang bersangkutan. Syarat pengalaman bagi calon guru BK setidaknya pernah diperoleh melalui praktik mikro konseling dan praktek Pengalaman Lapangan (PPL) bimbingan dan konseling. Setidaknya calon guru BK di sekolah dan madrasah pernah berpengalaman memberikan pelayanan bimbingan dan konseling kepada para siswa.
4.       Syarat yang berkenaan dengan kemampuan
Kepemilikan kemampuan atau kompetensi dan keterampilan oleh gurur pembimbing atau konselor merupakan suatu keniscayaan. Tanpa kepemilikan kemampuan (kompetensi) dan keterampilan, tidak mungkin guru pembimbing atau konselor dapat melaksanakan tugas dengan baik.
Dalam pendapat lain dijelaskan bahwa persyaratan supaya seorang pembimbing dapat menjalankan pekerjaannya dengan sebaik-baiknya, maka pembimbing harus memenuhi syarat-syarat tertentu, dalam bukunya Bimbingan dan Konseling (studi dan karir) Prof. Dr. Bimo Walgito Menjelaskan, yaitu:
1.      Seorang pembimbing harus mempunyai pengetahuan yang cukup luas, baik segi teori maupun praktik. Segi teori merupakan hal yang penting karena segi inilah yang menjadi landasan di dalam praktik. Praktik tanpa teori merupakan praktik yang ngawur. Segi praktik adalah perlu dan penting, karena bimbingan dan konseling merupakan applied science, ilmu yang harus diterapkan dalam praktik sehari-hari, sehingga seorang pembimbing akan canggung apabila ia hanya menguasai teori saja tanpa memiliki kecakapan didalam praktik.
2.       Di dalam segi psikologis, seorang pembimbing akan dapat mengambil tindakan yang bijaksana jika pembimbing telah cukup dewasa secara psikologis, yaitu adanya kemantapan atau kestabilan di dalam psikisnya, terutama dalam segi emosi.
3.      Seorang pembimbing harus sehat jasmani maupun psikisnya, apabila jasmani dan psikis tidak sehat, maka hal itu akan mengganggu di dalam menjalankan tugasnya.
4.      Seorang pembimbing harus mempunyai kecintaan terhadap pekerjaannya dan juga terhadap anak atau individu yang dihadapinya. Sikap ini akan menimbulkan kepercayaan pada anak. Tanpa adanya kepercayaan dari anak maka tidaklah mungkin pembimbing dapat menjalankan tugas dengan sebaik-baiknya.
5.       Seorang pembimbing harus mempunyai inisiatif yang baik sehingga dapat diharapkan usaha bimbingan dan konseling berkembang ke arah keadaan yang lebih sempurna demi untuk kemajuan sekolah.
6.      Karena bidang gerak dari pembimbing tidak terbatas pada sekolah saja, maka seorang pembimbing harus supel, ramah tamah, sopan santun di dalam segala perbuatannya, sehingga pembimbing dapat bekerja sama dan memberikan bantuan secukupnya untuk kepentingan anak-anak.
7.      Seorang pembimbing diharapkan mempunyai sifat-sifat yang dapat menjalankan prinsip-prinsip serta kode etik bimbingan dan konseling dengan sebaik-baiknya.
2.5  Prinsip-prinsip Program Bimbingan di Sekolah
Pelayanan BK secara resmi memang ada di sekolah tetapi keberadaannya belum optimal. Dalam hal ini, Belkin (dalam Prayitno 1994) seperti terungkap dalam tulisan Wawan Junaidi (009), menegaskan bahwa untuk menumbuhkembangkan pelayanan BK di sekolah, ada prinsip-prinsip yang harus dipenuhi, yaitu sebagai berikut.
1.        Sasaran layanan:
a.    melayani semua individu tanpa memandang usia, jenis kelamin, suku, agama dan status sosial;
b.         memerhatikan tahapan perkembangan;
c.         memerhatikan adanya perbedaan individu dalam layanan.
2.        Berkenaan dengan permasalahan yang dialami individu:
a.    menyangkut pengaruh kondisi mental maupun fisik individu terhadap penyesuaian pengaruh lingkungan, baik di rumah, sekolah dan masyarakat sekitar;
b.    timbulnya masalah pada individu karena adanya kesenjangan sosial, ekonomi, dan budaya.
3.        Program pelayanan bimbingan dan konseling:
a.    bimbingan dan konseling merupakan bagian integral dari pendidikan dan pengambangan individu, sehingga program bimbingan konseling diselaraskan dengan program pendidikan dan pengembangan diri peserta didik;
b.    program bimbingan dan konseling harus fleksibel dan disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik maupun lingkungan;
c.    program bimbingan dan konseling disusun dengan mempertimbangkan adanya tahap perkembangan individu;
d.        program pelayanan bimbingan dan konseling perlu diberikan penilaian hasil layanan.
4.        Berkenaan dengan tujuan dan pelaksanaan pelayanan:
a.    pelayanan diarahkan untuk pengembangan individu yang akhirnya mampu secara mandiri membimbing diri sendiri;
b.    pengambilan keputusan yang diambil oleh individu hendaknya atas kemauan diri sendiri;
c.    permasalahan individu dilayani oleh tenaga ahli/profesional yang relevan dengan permasalahan individu;
d.   perlu ada kerja sama dengan personal sekolah dan orangtuan dan bila perlu dengan pihak lai yang berwenang dalam permasalahan individu; dan
e.    proses pelayanan bimbingan konseling melibatkan individu yang telah memperoleh hasil pengukuran dan penilaian layanan.
Dengan demikian, prinsip bimbingan dan konseling di sekolah adalah membantu dan melayani dengan sepenuhnya para perserta didik agar tidak tertinggal dari aspek belajar dari teman-teman sekelasnya, dan juga agar bergaul sejajar dengan mereka dengan tidak dikecualikan sama sekali.

2.6  Langkah-Langkah Bimbingan Konseling Di Sekolah
Penyusunan program bimbingan konseling (BK) di sekolah disusun harus merajuk kepada program sekolah secara umum. Artinya program BK di sekolah disusun tidak boleh bertentangan dengan program sekolah yang bersangkutan. Selain itu,  penyusunan program BK harus sesuai dan berorientasi dengan kebutuhan sekolah secara umum. Sebelum melaksanakan bimbingan kepada peserta didik, ada beberapa tahapan yang harus dilaksanakan sebelum melaksanakan bimbingan. Adapun langkah-langkahnya adalah sebagai berikut:
1.      Identidikasi Kasus
Sebagai langkah awal ketika akan memberikan bimbingan dan konseling kepada peserta didik ialah identifikasi masalah yaitu mengamati peserta didik baik secara langsung maupun secara tidak langsung. Hal lain yang bisa dilakukan  dengan cara menanyakan langsung kepada peserta didik, memint pesert didi untuk   menjelaskan   masala yan dihadapi, menanyai pendapat dari teman-teman dekatnya maupun melihat masa lalu dari peserta didik tersebut.Dalam melaksanakan identifikasi kasus mengumpulkan data konselor bisa juga menggunakan metode observasi yaitu dengan penyelidikan yang dijalankan secara sistematis dan sengaja diadakan dengan menggunakan alat indera terhadap kejadian-kejadian yang bisa langsung ditangkap pada waktu kejadian berlangsung
2.      Diagnosa
Suat prose penentuan   masala yait denga meliha hasi dari identifikasi yang telah dilakukan. Identfikasi sangat erat hubungannya dengan diagnosa karena ketika identifikasinya salah akan berakibat kesalahan juga dalam penentuan masalahnya.
3.      Pragnosa
Pragnosa merupakan bentuk penentuan penyelesaian dari permasalahan yang telah teridentifikasi. Penentuan opsi penyelesaian hendaknya menitik beratkan pada tingkat kesessuaian dan ketepatan dengan masalah yang ada.
4.      Terapi
Terapi merupakan bentuk langkah konkrit dari bimbingan dan konseling, proses terapi dilaksanakan secara berkesinambungan serta menghadirkan hal-hal yang sekiranya dapat mempermudah dalam mpelaksanaan terapi.
5.      Evaluasi dan Tindak Lanjut
            Evaluasi merupakan hal yang terakhir dalam melaksanakan bimbingan dan konseling. Evaluasi melihat seberapa besar pengaruh atau hasil dari terapi yang telah diberikan, evaluasi juga berfungsi untuk melihat sejauh mana tingkat kesesuaian antara permasalahan yang dihadapi dengan penyelesaian yang telah diberikan. Apabila hasilnya positif (sesuai) maka terapi yang dilakukan bisa dilaksanakan secara terus menerus sampai peserta didik mampu menggali potensi, serta mampu mengembangkan apa yang ia cita-citakan, namun begigu juga sebaliknya ketika hasil dari evaluasi menunjukan ketidak cocokan maka hal yang perlu dilakukan ialah melihat  identifikasi  apakah  benar-banar  sudah  sesuai  dengan  prosedur yang standar atau belum.
Untuk menyusun suatu program bimbingan ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan, diantaranya:
1.      Susunlah program bimbingan yang relevan dengan kebutuhan bimbingan di sekolah. Karena dengan program yang relevan dengan kebutuhan ini, akan dapat berfungsi sesuai tujuan yang ingin dicapai. Untuk itu perlu diadakan inventarisasi masalah dan kebutuhan anak di sekolah. Kemudian untuk selanjutnya ditentukan prioritas penanganan masalah atau kebutuhan yang akan dilayani.
2.      Mempertimbangkan sifat-sifat khas sekolah, yaitu: jenis sekolah, ukuran sekolah, sifat atau tujuan sekolah, guru-huru, murid-murid dengan berbagai persoalan dan sika. Lingkungan tempat sekolah juga dapat menentukan sifat masalah dan kebutuhannya, umpamanya sekolah di kota besar, di desa, di lingkungan orang berada atau miskin.
3.      Hendaknya diadakan inventarisasi berbagai macam fasilitas yang ada, termasuk di dalamnya petugas bimbingan yang telah ada sebagai pelaksana program bimbingan, ruangan yang telah tersedia dan dapat dipergunakan dan kemungkinan untuk bisa dikembangkan, dana yang tesedia dengan berbagai peralatan yang akan dipergunakan untuk memperlancar jalannya layanan bimbingan di sekolah.
4.      Hendaknya ditentukan program kerja yang terinci dan sistematis dalam program bimbingan di sekolah berdasarkan masalah-masalah yang secara mendesak harus ditangani. Program kerja harus memberi jawaban atas permasalahan atau berbagai kebutuhan yang ada.
5.      Handaknya ditentukan personalia, pembagian tugas dan tanggung jawab yang merata dengan mempertimbangkan berbagai faktor, yaitu: kemampuan, minat, kesempatan dan bakat yang dimiliki oleh staf sekolah yang ada.
6.      Menentukan organisasi, termasuk di dalamnya ialah  kerja  dan kerja sama dalam mewujudkan program bimbingan, cara berfungsinya tim atau personalia, berhubungan dengan tugas-tugas lainnya.
7.      Hendaknya diadakan evaluasi program bimbingan yang gunanya untuk mengecek seberapa jauh rencana dan pengaturan kerja itu telah dapat dilaksanakan.
8.      Isi atau kegiatan yang diprogramkan, tidak hanya menyangkut bahan yang hendak disajikan tetapi juga metode penyajian maupun kegiatan menunjangnya.

2.7 Sistematika Penyusunan dan Pengembangan Program BK
Sistematika penyusunan dan pengembangan program BK Sekolah yang komprehensif pada dasarnya terdiri dari dua langkah besar, yaitu: 1. pemetaan kebutuhan, masalah, dan konteks layanan; dan 2.  desain program yang sesuai dengan kebutuhan, masalah, dan konteks layanan. Adapun penjabaran dari tiaptiap langkah besar sebagai berikut:
1.      Pemetaan Kebutuhan, Masalah, dan Konteks Layanan
Penyusunan program BK di sekolah haruslah dimulai dari kegiatan asesmen (pengukuran, penilaian) atau kegiatan mengidentifikasi aspekaspek yang dijadikan bahan masukan bagi penyusunan program/layanan (Depdiknas, 2007). Kegiatan asesmen ini meliputi:
a. Asesmen konteks lingkungan program yang terkait dengan kegiatan mengidentifikasi harapan dan tujuan sekolah, orangtua, masyarakat, dan stakeholder pendidikan terlibat, sarana dan prasarana pendukung program bimbingan, kondisi dan kualifikasi konselor, serta kebijakan pimpinan sekolah;
b. Asesmen kebutuhan dan masalah peserta didik yang menyangkut karakteristik peserta didik; seperti aspek fisik (kesehatan dan keberfungsiannya), kecerdasan, motivasi, sikap dan kebiasaan belajar, minat, masalahmasalah yang dihadapi, kepribadian, tugas perkembangan psikologis. Melalui pemetaan ini diharapkan program dan layanan BK yang dikembangkan oleh konselor benarbenar dibutuhkan oleh seluruh segmen yang terlibat dan sesuai dengan konteks lingkungan program. Dengan kata lain, program dan kegiatan yang tertuang dalam rencana per semester ataupun tahunan bukan sekedar tuntutan administratif, melainkan tuntutan tanggung jawab yang sungguh harus dilaksanakan secara professional.
Berikut langkah-langkah yang dapat dilakukan oleh konselor dalam memetakan kebutuhan, masalah, dan konteks layanan:
·         Menyusun instrumen dan unit analisis penilaian kebutuhan. Eksplorasi peta kebutuhan, masalah, dan konteks membutuhkan instrument asesmen yang berfungsi sebagai alat bantu. Dalam instrumen ini, konselor merumuskan aspek dan indicator beserta item pernyataan/pertanyaan yang akan diukur dan jenis metode yang akan digunakan untuk mengungkap aspek dimaksud. Metode yang dapat digunakan, seperti observasi, wawancara, dokumentasi, dan sebagainya.
·         Implementasi penilaian kebutuhan. Pada tahap ini, konselor sesegera mungkin mengumpulkan data dengan menggunakan instrument yang telah dibuat sebelumnya dengan tujuan memperoleh gambaran kebutuhan dan konteks lingkungan yang akan dirumuskan ke dalam program lebih lanjut
·         Analisis hasil penilaian kebutuhan. Setelah data terkumpul, konselor mengolah, menganalisis, dan menginterpretasi hasil penilaian yang diungkap dengan tujuan kebutuhan, masalah, dan konteks program dapat teridentifikasi dengan tepat
·         Pemetaan kebutuhan/permasalahan. Setelah hasil analisis dan identifikasi masalah terungkap, petugas BK dan konselor membuat peta kebutuhan/masalah yang dilengkapi dengan analisis faktorfaktor penyebab yang memunculkan kebutuhan/permasalahan

2.       Desain Program BK dan Rencana Aksi (Action Plan)
Berikut ini adalah penjabaran rencana operasional (action plan) yang diperlukan Action plan yang akan disusun paling tidak memenuhi unsur 5W+1H (what, why, where, who, when, and how). Dengan demikian, konselor dan petugas bimbingan perlu melakukan halhal berikut ini:
·         Identifikasikan dan rumuskan berbagai kegiatan yang harus/perlu dilakukan. Kegiatan ini diturunkan dari perilaku/tugas perkembangan/kompetensi yang harus dikuasai peserta didik
·         Pertimbangkan porsi waktu yang diperlukan untuk melaksanakan setiap kegiatan di atas. Apakah kegiatan itu dilakukan dalam waktu tertentu atau terus menerus. Berapa banyak waktu yang diperlukan untuk melaksanakan pelayanan bimbingan dan konseling dalam setiap  komponen program perlu dirancang dengan cermat. Perencanaan waktu ini didasarkan kepada isi program dan dukungan manajemen yang harus dilakukan oleh konselor. Berikut dikemukakan tabel alokasi waktu, sekedar perkiraan atau pedoman relatif dalam pengalokasian waktu untuk konselor dalam pelaksanaan komponen pelayanan bimbingan dan konseling di Sekolah/Madrasah.
Perkiraan Alokasi Waktu Pelayanan
KOMPONEN
PELAYANAN

JENJANG PENDIDIKAN

SD/MI
SMP/MTs
SMA/MAN/SMK

1. Pelayanan Dasar
45 – 55 %
35 – 45 %
25 – 35 %

2.Pelayanan Responsif

20 – 30 %
25 – 35 %
15 – 25 %

3.Pelayanan Perencanaan Individual dan keluarga

5 – 10 %
15 – 25 %
25 – 35 % (Porsi untuk SMK lebih besar)

4. Dukungan Sistem

10 – 15 %
10 – 15 %
10 – 15 %


·         Inventarisasi kebutuhan yang diperoleh dari needs assessment ke dalam tabel kebutuhan yang akan menjadi rencana kegiatan. Rencana kegiatan dimaksud dituangkan ke dalam rancangan jadwal kegiatan untuk selama satu tahun. Rancangan ini bisa dalam bentuk matrik; Program Tahunan dan Program semester.
·         Program bimbingan dan konseling Sekolah/Madrasah yang telah dituangkan ke dalam rencana kegiatan perlu dijadwalkan ke dalam bentuk kalender kegiatan. Kalender kegiatan mencakup kalender tahunan, bulanan, dan mingguan.
·         Program bimbingan dan konseling perlu dilaksanakan dalam bentuk kontak langsung, dan tanpa kontak langsung dengan peserta didik.
Untuk kegiatan kontak langsung yang dilakukan secara klasikal di kelas (pelayanan dasar) perlu dialokasikan waktu terjadwal 2 (dua) jam pelajaran perkelas perminggu. Adapun kegiatan bimbingan tanpa kontak langsung dengan peserta didik dapat dilaksanakan melalui tulisan (seperti email, bukubuku, brosur, atau majalah dinding), kunjungan rumah (home visit), konferensi kasus (case conference), dan alih tangan (referral).

2.8  Kegiatan-kegiatan Dalam Program bimbingan
Secara operasional pelaksanaan program layanan bimbingan meliputi kegiatan-kegiatan sebagai berikut;
1.      Tahapan persiapan
a.       Penyusunan program BP
b.      Konsultasi dengan pihak sekolah
c.       pengumpulan berbagai informasi yang diperlukan
d.      penyediaan pasilitas BP yang diperlukan
2.      Program pengumpulan keterangan/data tentang siswa
Tujuan: memperoleh keterangan/data yang selengkap-lengkapnya tentang siswa yang diperlukan untuk bantuan kepada mereka
a.       Jenis data yang dikumpulkan:
1)      Identitas pribadi siswa
2)      Keadaan keluarga dan lingkungan sosial
3)      Data psikis siswa
b.      Alat/teknik pentitas pengumpulan data
1)      Alat/teknik non-testing
a)      Observasi (di luarkelas, di rumah, di tempat-tempat tertentu)
b)      Wawancara (dengan murid, orang tua guru dan pihak-pihak lain)
c)      Angket
d)     Sosiometri
e)      Skala penilaian
f)       Album BP
2)      Alat/teknik testing
a)      Aspek intelektual
b)      Aspek emosional
c)      Aspek kemauan
d)     Aspek kepribadian
e)      Aspek lingkungan dan pengaruhnya terhadap perkembangan
Dilaksanakan dengan menggunakan “psychotest” yang sudah dilakukan dan dilaksanakan dengan kerjasama dengan lembaga-lembaga lain. Tes-tes tersebut seperti test-test intelegensi, tes minat, test kepribadian, tes bakat khusus dan sebagainya.
c.       Sumber data
Pihak yang dapat dijadikan sumber data antara lain: siswa-siswa itu sendiri, kawan-kawannya, orang tuanya, saudara-saudaranya, guru dan staf lainnya, lembaga-lembaga lain seperti dokter, rumah sakit organisasi dan sebagainya.
3.      Pemberian informasi dan orientasi
Tujuan: agar para siswa memperoleh gambaran yang jelas mengenai situasi pendidikan yang akan ditempuhnya. Dalam pelaksanaan kegiatan tersebut bentuk pemberian informasi dan orientasi kepada siswa, baik secara lisan tulisan maupunmengamati langsung secara individual maupun kelompok, yang meliputi:
Ø  Orientasi kehidupan di sekolah
Ø  Orientasi kehidupan perguruan tinggi
Ø  Informasi tentang pekerjaan
Ø  Informasi tentang cara-cara belajar
Ø  Tata tertib sekolah
Ø  Informasi dan orientasi lingkungan sekitar
4.      Penempatan dan penyaluran
Tujuan: Agar siswa memperolah posisi yang sesuai dengan potensi dirinya
5.      Bantuan penyuluhan
Tujuan: Membantu siswa dalam mengatasi/memecahkan masalah pribadinya dengan menggunakan potensinya sendiri seoptimal mungkin sehingga ia dapat mencapai tujuan pendidikan sesuai dengan bakat dan kapasitasnya.
6.      Bantuan dan kesulitan belajar
Tujuan: agar siswa memperoleh sukses dalam belajar secara optimal sesuai potensi yang dimilikinya. Bantuan yang diberikan tidak saja kepada siswa yang telah nyata menunjukan kesuklitan belajar, akan tetepi juga kepada siswa –siswa lain yang menunjukan kesulitan-kesulitan belajar.
7.      Pertemuan staf
8.      Penataran petugas bimbingan dan guru-guru
9.      Hubungan masyarakat     
Tujuan: membantu dan membina pemahaman yang lebih objektif tentang program bimbingan di sekolah, terutama bagi guru, orang tua siswa, dan masyarakat pada umumnya
10.  Usaha-usaha penilaian dan tindak lanjut
Tujuan: menilai efisiensi program bimbingan dalam hubungannya dengan program pendidikan umumnya.


2.9 Implikasi-implikasi Suatu Program Bimbingan
1.      Bagi individu murid
a.       Menyadiakan kondisi-kondisi yang memungkinkan setiap murid selalu merasa aman, gembira, berkeyakinan bahwa kecakapan dan prestasi-prestasi yang dapat dicapainya mendapat penghargaan dan perhatian.
b.      Menyediakan kondisi-kondisi dan kesempatan bagi setiap murid untuk memperoleh hasil yang lebih baik.
c.       Mengembangkan pengertian murid-murid memelihara kesehatan jasmani dan rohani.
d.      Mengusahakan agar murid-murid dapat memahami dirinya.
e.       Mengembangkan sikap-sikap dasar bagi tingkah laku sosial yang baik.
f.       Mengembangkan rasa ketenangan, kesabaran, dan pengarahan diri (self direction)
g.      Mengembangkan minat murid-murid terhadap nilai-nilai intelektual, sosial dan rekreasi.
h.      Memperoleh informasi pendidikan, pekerjaan dan sosial, yang diperlukan dalam pembuatan rencana-rencana sekarang dan yang akan datang.

2.      Bagi organisasi dan pekerjaan sekolah
a.       Menempatkan kebutuhan pribadi individu di atas pertimbangan-pertimbangan prosedur sekolah yang lain.
b.      Menyeduakan suatu kurikulum dan kondisi-kondisi kerja yang memungkinkan setiap murid dapat bekerja dengan hasil yang baik dan kafasitas yang penuh.
c.       Menyediakan informasi tentang kedaaan diri murid-murid, yang penting bagi penentuan bahan-bahan dan pemberian pengajaran yang sesuai
d.      Menyediakan kondisi-kondisi yang memungkinkan murid-murid berpartisipasi secara aktif dalam perencanaan dan dalam kegiatan-kegiatan kelompok.

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Secara umum, fungsi bimbingan dan konseling yaitu: Fungsi pemahaman, fungsi preventif, fungsi pengembangan, fungsi penyembuhan, fungsi penyaluran, fungsi adaptasi, fungsi penyesuaian, fungsi perbaikan, fungsi fasilitasi, dan fungsi pemeliharaan,.
Secara khusus arah dan tujuan bimbingan dan konseling di sekolah ada tiga macam, yaitu: Tujuan bimbingan bagi siswa, tujuan bimbingan bagi guru dan tujuan bimbingan bagi sekolah.
Syarat-syarat bagi seorang pembimbing di sekolah menurut Arifin dan Eti Kartikawati (1994/1995) dipilih atas dasar kualifikasi : (1) Kepribadian, (2) Pendidikan, (3) Pengalaman, dan (4) Kemampuan.
Prinsip program bimbingan di sekolah mencakup beberapa hal yaitu: sasaran layanan, berkenaan dengan permasalahan yang dialami individu, program pelayanan bimbingan dan konseling, berkenaan dengan tujuan dan pelaksanaan pelayanan. Langkah langkah penyusunan program BK harus sesuai dan berorientasi dengan kebutuhan sekolah secara umum. Sebelum melaksanakan bimbingan kepada peserta didik, ada beberapa tahapan yang harus dilaksanakan sebelum melaksanakan bimbingan. Sistematika penyusunan dan pengembangan program BK Sekolah yang komprehensif pada dasarnya terdiri dari dua langkah besar, yaitu: 1. pemetaan kebutuhan, masalah, dan konteks layanan; dan 2.  desain program yang sesuai dengan kebutuhan, masalah, dan konteks layanan.
Kegiatan dalam program bimbingan meliputi beberapa tahap yaitu: tahapan persiapan kegiatan, program pengumpulan keterangan/data tentang siswa, pemberian informasi dan orientasi, penempatan dan penyaluran, bantuan penyuluhan, bantuan dan kesulitan belajar, pertemuan staf, penataran petugas bimbingan dan guru-guru, hubungan masyarakat, usaha-usaha penilaian dan tindak lanjut. Implikasi-implikasi suatu program bimbingan dapat dirasakan oleh individu murid dan organisasi/ pekerjaan sekolah.




DAFTAR PUSTAKA

Salahudin, Anas.2009. Bimbingan dan Konseling. Bandung : CV. Pustaka Setia
Tohirin. 2007. Bimbingan dan Konselling di Sekolah dan Madrasah. Jakarta: PT Raja Grafindo      Persada.
Juntika Nurihsan, Achmad, Dr. M.Pd. 2006. Bimbingan Konselling dalam Berbagai Latar Kehidupan. Bandung: PT Refika Aditama.
Faturohman.2008. Penyusunan Program Bimbingan Konseling di Sekolah. Yogyakarta (Makalah)
Nawawi. Makalah bimbingan konseling di Sekolah. Diposkan pada 30 Maret 2011. Tersedia di www.nawawi1984.blogspot.com

7 komentar:

  1. Balasan
    1. iya,, maaf dlu belum sempet dimasukkan daftar pustakanya

      Hapus
  2. Maaf karena susah mengedit postingan ini Daftar pustaka nya saya post di sini ya.. :-)
    DAFTAR PUSTAKA

    Salahudin, Anas.2009. Bimbingan dan Konseling. Bandung : CV. Pustaka Setia
    Tohirin. 2007. Bimbingan dan Konselling di Sekolah dan Madrasah. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
    Juntika Nurihsan, Achmad, Dr. M.Pd. 2006. Bimbingan Konselling dalam Berbagai Latar Kehidupan. Bandung: PT Refika Aditama.
    Faturohman.2008. Penyusunan Program Bimbingan Konseling di Sekolah. Yogyakarta (Makalah)
    Nawawi. Makalah bimbingan konseling di Sekolah. Diposkan pada 30 Maret 2011. Tersedia di www.nawawi1984.blogspot.com

    BalasHapus